Selasa, 26 April 2016

SURAT AL-MA'UN DAN TERJEMAHNYA

Kandungan QS. Al-Maun




أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)
Artinya :
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1) Itulah orang yang menghardik anak yatim, (2) dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (3) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (4) (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, (5) orang-orang yang berbuat ria. (6) dan enggan (menolong dengan) barang berguna.(7)

      Surat al-Ma’un terdiri dari 7 ayat. Diturunkan di Mekah dan termasuk surat Makkiyah. Kata “al-Maun” diambil dari ayat terakhir yang berarti barang -barang berguna. Surat Al-Ma’un mempunyai beberapa nama, yaitu : ad-Din (agama, pembalasan), at-Takdzib (dusta/ kebohongan), al-Yatim (anak yatim), danara’aita (tahukah kamu). Surat ini adalah wahyu ke-17 yang diterima Nabi Muhammad. Ia turun setelah surat al-Takatsur dan sebelum al-Kafirun.
      Surat ini turun berkaitan dengan salah seorang kaum Kafir Mekah yang setiap minggu menyembelih seekor unta. Suatu ketika, seorang anak yatim datang meminta sedikit daging yang telah disembelih itu. Namun, ia tidak diberinya bahkan dihardik dan diusir.
      Menurut al-Biqa’i, surat ini diturunkan sebagai peringatan bagi mereka yang mengingkari datangnya hari kebangkitan. Karena pengingkaran terhadap hari kebangkitan adalah sumber dari segala kejahatan. Dan akan mendorong manusia untuk melakukan berbagai akhlak yang buruk dan melecehkan kebajikan.
      Surat al-Ma’un menjelaskan tentang beberapa bentuk sikap dan perbuatan yang dapat digolongkan sebagai mendustakan agama. Perbuatan-perbuatan tersebut adalah :
a.       Menghardik anak yatim dan tidak mau menolong orang miskin yang sedang kelaparan. Mereka disebut demikian karena menduga bahwa berbuat baik kepada anak yatim dan membantu orang miskin tidak menghasilkan apa-apa. Ini berarti mereka mengingkari adanya hari pembalasan. Padahal agama memerintahkan untuk percaya kepada datangya hari pembalasan. Dan orang yang mengingkari adanya hari pembalasan biasanya akan berlaku seenaknya. Dan perbuatan dosa telah menjadi teman hidupnya yang berujung pada kerugian, baik untuk dirinya maupun orang yang ada di sekitarnya. Dan pada akhirnya akan membuat kerusakan tatanan masyarakat yang lebih luas.
b.      Mereka yang melalaikan makna shalatnya. Yaitu mereka yang melaksanakan shalat hanya bertujuan untuk riya’ dan mencari pujian orang lain. Perbuatan riya inilah yang menyebabkan manusia kemudian menjadi sombong. Mereka lupa bahwa shalat adalah ibadah yang bertujuan menghilangkan sifat sombong tersebut. Oleh karena itu sifat riya digolongkan sebagai perbuatan syirik kecil, sebagaimana sabda Nabi Saw :
اَخْوَفُ مَا اَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ، فَسُئِلَ عَنْهُ فَقَالَ : الرِّيَاءُ      
      Artinya :
“Sesuatu yang sangat aku takutkan akan menimpa kalian ialah syirik kecil. Nabi lalu ditanya apa itu syirik kecil, kemudian beliau menjawab : riya.”(HR. Ahmad)
            Perbuatan riya’ dikatergorikan sebagai syirik kecil karena di dalamnya mengandung sifat takabur (sombong). Dan orang yang sombong adalah orang yang memuji dirinya sendiri secara berlebihan. Sehingga meniadakan keberadaan Allah yang merupakan sumber dari semua yang ia banggakan. Seakan-akan semuanya adalah hasil usahanya sendiri bukan dari Allah.
            Sebab yang kedua sehingga seseorang dianggap telah melalaikan makna shalat adalah enggan memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan.  Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, yang dimaksud dari kata al-Ma’un dalam ayat ini adalah bantuan yang kecil sifatnya. Sehingga menurut beliau memberikan bantuan yang kecil saja mereka enggan, apalagi bantuan yang besar. Alangkah kikirnya orang yang demikian.
            Kedua hal diatas merupakan tanda-tanda tidak menghayati makna dan tujuan shalat. Karena sesungguhnya shalat berisikan doa (permohonan). Orang yang berdoa berarti menyatakan dirinya lemah dan butuh bantuan. Oleh karena itu tidak pantas bagi mereka yang shalat untuk berbuat riya’ dan enggan memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Padahal mereka sendiri adalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan Allah. Sungguh orang yang seperti ini tidak tahu diri. Sama-sama membutuhkan pertolongan namun tidak mau menolong sesama yang membutuhkan.
           
    Jadi, dapat disimpulkan bahwa seseorang dianggap telah menjalankan shalat dengan sempurna apabila telah memenuhi dua syarat berikut:
o   ikhlas melakukannya karena Allah
o   merasakan kebutuhan yang dirasakan orang-orang lemah dan bersedia membantu mereka
Dengan demikian, semakin jelas bahwa agama Islam menuntut kebersihan jiwa, kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan kerjasama antara sesama makhluk Allah. Karena tanpa itu semua, mereka yang shalat pun akan dinilai sebagai orang yang telah mendustakan agama dan mengingkari hari kebangkitan.

Senin, 03 November 2014

MEDIA PEMBELAJARAN PAI SD ICT (BELAJAR MENDIRI)

BELAJAR MANDIRI
KISAH WALI SONGO (Kelas IV Semester II)

Assalamu'alaykum Wr. Wb.!
Anak-anakku kelas IV yang shalih dan shalihah, Silahkan kalian belajar mandiri Tema tentang Kisah Keteladanan Wali Songo!

Mudah-mudahan bermanfaat dan sukses, Amin...!!!


Jumat, 30 November 2012

Metode Pembelajaran Bahasa


Metode Story Maps dalam Pembelajaran Bahasa
Oleh: Achmad Zainal Abidin, S.Pd.I.

Metode story maps adalah sebuah jawaban atas kegelisahan para guru bahasa saat ini. Dengan metode ini, kemampuan berbahasa siswa akan semakin meningkat. Siswa tidak hanya mudah dalam mencatat, melainkan mudah mengingat, menambah pemahaman cerita yang didengarnya, dan bahkan bisa mengorganisasikan cerita tersebut. Dengan begitu, metode ini sebaiknya diterapkan dalam pembelajaran bahasa, karena berbahasa merupakan karakter dan identitas diri seseorang.

Bahasa adalah alat pemersatu bangsa. Barang siapa yang mengetahui bahasa suatu kaum maka ia akan selamat dari tipu daya mereka. Kadang orang sangat dihormati karena bahasanya, begitu pun sebaliknya bisa jadi ia akan dimusuhi karena bahasa yang digunakan. Karena itu, pembelajaran bahasa sangat diperlukan dalam pendidikan.
Kaitannya dalam pembelajaran bahasa siswa bukan berarti harus menjadi dan mengikuti segala kemauan kita sebagai pembelajar. Akan tetapi justru tergantung dari kebijaksanaan kita dalam mengasah, mengasihi serta mengasuhnya. Semua itu dilakukan agar kecerdasan siswa dalam berbahasa tidak hanya diukur dari segi kognitifnya saja, melainkan juga afektif dan psikomotor.
Alwi (1999) mengatakan bahwa mutu pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia sekarang ini masih rendah. Salah satu indikatornya adalah ketidakmampuan siswa dalam berbahasa khususnya dalam menceritakan kembali cerita yang telah didengarnya dengan kalimat sendiri (mereproduksi). Siswa umumnya mengalami kesulitan dalam mereproduksi cerita yang didengarnya. Mereproduksi cerita bagi mereka bukan hal yang gampang terutama ketika mulai bercerita. Mereka merasa pikiran menjadi buntu’ ketika hendak menuangkan gagasan ke dalam kalimat demi kalimat.
Berdasarkan studi awal, bahwa peranan cerita membawa pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan bahasa verbal siswa dan juga kecerdasan siswa. Untuk itu, peranan guru dalam memotivasi siswa untuk mengembangkan imajinasinya dengan cerita sekaligus melatih konsentrasi siswa sangatlah penting. Dengan begitu siswa tidak mengalami kesulitan konsentrasi dalam membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
Dengan demikian banyak hal yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran bahasa khususnya dengan metode cerita. Metode cerita tersebut mengandung segudang makna tersembunyi dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan yang harus tergali dalam diri siswa. Siswa lebih mudah menangkap sesuatu lewat cerita, baik itu cerita pendek maupun cerita panjang. Cerita itu akan lebih mudah dicerna, diingat, bahkan diceritakan kembali oleh siswa jika dalam penyampaiannya menggunakan model dan metode tertentu yang sistematis.
Banyak guru atau pengajar yang mengeluh karena mereka merasa kesulitan dalam bercerita sampai-sampai belum berhasil menstimulasi saraf motorik siswa. Siswa tersebut tidak bisa bahkan sulit menceritakan kembali cerita yang telah didengarnya. Metode Story Maps merupakan solusi terhadap kesulitan yang dihadapi oleh para guru saat ini. Sehingga metode pembelajaran tersebut dapat membantu mereka dalam usahanya meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa.
Menurut Rost (1991), story maps dapat membantu siswa dalam mencatat, mengingat, meningkatkan pemahaman terhadap cerita yang didengarnya, dan membantu mengorganisasikan cerita tersebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa metode story maps dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa, mulai dari kemampuan membaca, mendengarkan, menulis, sampai berbicara. Kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan dalam pelajaran bahasa.
Kegiatan inti yang dilakukan melalui metode story maps adalah mengisi bagan cerita yang meliputi perwatakan (watak tokoh), latar (setting) cerita, masalah, tindakan untuk menyelesaikan masalah, hasil atau akibat dari tindakan tersebut, tema, dan amanat cerpen. Selanjutnya, siswa mereproduksi cerpen itu. Dengan kata lain, siswa dibimbing mengisi bagan, dan dengan bantuan isi bagan tersebut mereka mereproduksi ke dalam kalimat mereka sendiri.
Metode Story Maps yang diterapkan dalam pembelajaran bahasa ini diharapkan dapat memfasilitasi guru dalam meningkatkan kemampuan berbahasa siswa, yang meliputi kemampuan membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Dengan berbekal kemampuan tersebut maka siswa akan lebih diterima oleh masyarakat, karena keterampilan bahasa yang dimiliki bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, metode story maps ini sebaiknya banyak digunakan dalam pembelajaran bahasa. Salah satu ukuran keberhasilan sekolah adalah output yang terampil dalam berbahasa dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Profil Penulis

Nama                  : Achmad Zainal Abidin, S.Pd.I.
T. Tgl Lahir        : Sidoarjo, 26 Mei 1984