Metode Story Maps
dalam Pembelajaran Bahasa
Oleh: Achmad Zainal Abidin, S.Pd.I.
Metode story maps adalah sebuah
jawaban atas kegelisahan para guru bahasa saat ini. Dengan metode ini,
kemampuan berbahasa siswa akan semakin meningkat. Siswa tidak hanya mudah dalam
mencatat, melainkan mudah mengingat, menambah pemahaman cerita yang
didengarnya, dan bahkan bisa mengorganisasikan cerita tersebut. Dengan begitu,
metode ini sebaiknya diterapkan dalam pembelajaran bahasa, karena berbahasa
merupakan karakter dan identitas diri seseorang.
Bahasa adalah alat pemersatu bangsa. Barang siapa yang
mengetahui bahasa suatu kaum maka ia akan selamat dari tipu daya mereka. Kadang
orang sangat dihormati karena bahasanya, begitu pun sebaliknya bisa jadi ia
akan dimusuhi karena bahasa yang digunakan. Karena itu, pembelajaran bahasa
sangat diperlukan dalam pendidikan.
Kaitannya dalam pembelajaran bahasa siswa bukan berarti
harus menjadi dan mengikuti segala kemauan kita sebagai pembelajar. Akan tetapi
justru tergantung dari kebijaksanaan kita dalam mengasah, mengasihi serta
mengasuhnya. Semua itu dilakukan agar kecerdasan siswa dalam berbahasa tidak
hanya diukur dari segi kognitifnya saja, melainkan juga afektif dan psikomotor.
Alwi (1999) mengatakan bahwa mutu pembelajaran bahasa dan
sastra Indonesia sekarang ini masih rendah. Salah satu indikatornya adalah
ketidakmampuan siswa dalam berbahasa khususnya dalam menceritakan kembali
cerita yang telah didengarnya dengan kalimat sendiri (mereproduksi). Siswa
umumnya mengalami kesulitan dalam mereproduksi cerita yang didengarnya.
Mereproduksi cerita bagi mereka bukan hal yang gampang terutama ketika mulai
bercerita. Mereka merasa pikiran menjadi ’buntu’
ketika hendak menuangkan gagasan ke dalam kalimat demi kalimat.
Berdasarkan studi awal, bahwa peranan cerita membawa
pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan bahasa verbal siswa dan juga
kecerdasan siswa. Untuk itu, peranan guru dalam memotivasi siswa untuk
mengembangkan imajinasinya dengan cerita sekaligus melatih konsentrasi siswa
sangatlah penting. Dengan begitu siswa tidak mengalami kesulitan konsentrasi
dalam membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
Dengan demikian
banyak hal yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran bahasa khususnya
dengan metode cerita. Metode cerita tersebut mengandung segudang makna
tersembunyi dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan yang harus tergali
dalam diri siswa. Siswa
lebih mudah menangkap sesuatu lewat cerita, baik itu cerita pendek maupun
cerita panjang. Cerita itu akan lebih mudah dicerna, diingat, bahkan
diceritakan kembali oleh siswa jika dalam penyampaiannya menggunakan model dan
metode tertentu yang sistematis.
Banyak guru atau pengajar yang mengeluh karena mereka
merasa kesulitan dalam bercerita sampai-sampai belum berhasil menstimulasi
saraf motorik siswa. Siswa tersebut tidak bisa bahkan sulit menceritakan
kembali cerita yang telah didengarnya. Metode Story Maps merupakan
solusi terhadap kesulitan yang dihadapi oleh para guru saat ini. Sehingga
metode pembelajaran tersebut dapat membantu mereka dalam usahanya meningkatkan
kemampuan siswa dalam berbahasa.
Menurut Rost
(1991), story maps dapat membantu siswa dalam mencatat, mengingat,
meningkatkan pemahaman terhadap cerita yang didengarnya, dan membantu
mengorganisasikan cerita tersebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa metode story
maps dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa, mulai dari kemampuan
membaca, mendengarkan, menulis, sampai berbicara. Kemampuan-kemampuan tersebut
diperlukan dalam pelajaran bahasa.
Kegiatan inti
yang dilakukan melalui metode story maps adalah mengisi bagan cerita
yang meliputi perwatakan (watak tokoh), latar (setting) cerita, masalah,
tindakan untuk menyelesaikan masalah, hasil atau akibat dari tindakan tersebut,
tema, dan amanat cerpen. Selanjutnya, siswa mereproduksi cerpen itu. Dengan
kata lain, siswa dibimbing mengisi bagan, dan dengan bantuan isi bagan tersebut
mereka mereproduksi ke dalam kalimat mereka sendiri.
Metode Story
Maps yang diterapkan dalam pembelajaran bahasa ini diharapkan dapat
memfasilitasi guru dalam meningkatkan kemampuan berbahasa siswa, yang meliputi
kemampuan membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Dengan berbekal
kemampuan tersebut maka siswa akan lebih diterima oleh masyarakat, karena keterampilan bahasa yang dimiliki bisa
dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, metode story maps ini sebaiknya
banyak digunakan dalam pembelajaran bahasa. Salah satu ukuran keberhasilan
sekolah adalah output yang terampil dalam berbahasa dan menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Profil Penulis
Nama :
Achmad Zainal Abidin, S.Pd.I.
T. Tgl Lahir : Sidoarjo, 26 Mei 1984
Tidak ada komentar:
Posting Komentar