Jumat, 30 November 2012

Metode Pembelajaran Bahasa


Metode Story Maps dalam Pembelajaran Bahasa
Oleh: Achmad Zainal Abidin, S.Pd.I.

Metode story maps adalah sebuah jawaban atas kegelisahan para guru bahasa saat ini. Dengan metode ini, kemampuan berbahasa siswa akan semakin meningkat. Siswa tidak hanya mudah dalam mencatat, melainkan mudah mengingat, menambah pemahaman cerita yang didengarnya, dan bahkan bisa mengorganisasikan cerita tersebut. Dengan begitu, metode ini sebaiknya diterapkan dalam pembelajaran bahasa, karena berbahasa merupakan karakter dan identitas diri seseorang.

Bahasa adalah alat pemersatu bangsa. Barang siapa yang mengetahui bahasa suatu kaum maka ia akan selamat dari tipu daya mereka. Kadang orang sangat dihormati karena bahasanya, begitu pun sebaliknya bisa jadi ia akan dimusuhi karena bahasa yang digunakan. Karena itu, pembelajaran bahasa sangat diperlukan dalam pendidikan.
Kaitannya dalam pembelajaran bahasa siswa bukan berarti harus menjadi dan mengikuti segala kemauan kita sebagai pembelajar. Akan tetapi justru tergantung dari kebijaksanaan kita dalam mengasah, mengasihi serta mengasuhnya. Semua itu dilakukan agar kecerdasan siswa dalam berbahasa tidak hanya diukur dari segi kognitifnya saja, melainkan juga afektif dan psikomotor.
Alwi (1999) mengatakan bahwa mutu pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia sekarang ini masih rendah. Salah satu indikatornya adalah ketidakmampuan siswa dalam berbahasa khususnya dalam menceritakan kembali cerita yang telah didengarnya dengan kalimat sendiri (mereproduksi). Siswa umumnya mengalami kesulitan dalam mereproduksi cerita yang didengarnya. Mereproduksi cerita bagi mereka bukan hal yang gampang terutama ketika mulai bercerita. Mereka merasa pikiran menjadi buntu’ ketika hendak menuangkan gagasan ke dalam kalimat demi kalimat.
Berdasarkan studi awal, bahwa peranan cerita membawa pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan bahasa verbal siswa dan juga kecerdasan siswa. Untuk itu, peranan guru dalam memotivasi siswa untuk mengembangkan imajinasinya dengan cerita sekaligus melatih konsentrasi siswa sangatlah penting. Dengan begitu siswa tidak mengalami kesulitan konsentrasi dalam membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
Dengan demikian banyak hal yang harus dilakukan oleh guru dalam pembelajaran bahasa khususnya dengan metode cerita. Metode cerita tersebut mengandung segudang makna tersembunyi dalam memenuhi tugas-tugas perkembangan yang harus tergali dalam diri siswa. Siswa lebih mudah menangkap sesuatu lewat cerita, baik itu cerita pendek maupun cerita panjang. Cerita itu akan lebih mudah dicerna, diingat, bahkan diceritakan kembali oleh siswa jika dalam penyampaiannya menggunakan model dan metode tertentu yang sistematis.
Banyak guru atau pengajar yang mengeluh karena mereka merasa kesulitan dalam bercerita sampai-sampai belum berhasil menstimulasi saraf motorik siswa. Siswa tersebut tidak bisa bahkan sulit menceritakan kembali cerita yang telah didengarnya. Metode Story Maps merupakan solusi terhadap kesulitan yang dihadapi oleh para guru saat ini. Sehingga metode pembelajaran tersebut dapat membantu mereka dalam usahanya meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa.
Menurut Rost (1991), story maps dapat membantu siswa dalam mencatat, mengingat, meningkatkan pemahaman terhadap cerita yang didengarnya, dan membantu mengorganisasikan cerita tersebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa metode story maps dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa, mulai dari kemampuan membaca, mendengarkan, menulis, sampai berbicara. Kemampuan-kemampuan tersebut diperlukan dalam pelajaran bahasa.
Kegiatan inti yang dilakukan melalui metode story maps adalah mengisi bagan cerita yang meliputi perwatakan (watak tokoh), latar (setting) cerita, masalah, tindakan untuk menyelesaikan masalah, hasil atau akibat dari tindakan tersebut, tema, dan amanat cerpen. Selanjutnya, siswa mereproduksi cerpen itu. Dengan kata lain, siswa dibimbing mengisi bagan, dan dengan bantuan isi bagan tersebut mereka mereproduksi ke dalam kalimat mereka sendiri.
Metode Story Maps yang diterapkan dalam pembelajaran bahasa ini diharapkan dapat memfasilitasi guru dalam meningkatkan kemampuan berbahasa siswa, yang meliputi kemampuan membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Dengan berbekal kemampuan tersebut maka siswa akan lebih diterima oleh masyarakat, karena keterampilan bahasa yang dimiliki bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, metode story maps ini sebaiknya banyak digunakan dalam pembelajaran bahasa. Salah satu ukuran keberhasilan sekolah adalah output yang terampil dalam berbahasa dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Profil Penulis

Nama                  : Achmad Zainal Abidin, S.Pd.I.
T. Tgl Lahir        : Sidoarjo, 26 Mei 1984